Ciri – Ciri Orang yang Sudah Mencapai Ibadah Haji dan Umroh Mabrur

Ciri – Ciri Orang yang Sudah Mencapai Ibadah Haji dan Umroh Mabrur

Assalamualaikum wr wb

Mabrur Mandiri Travel Umroh Murah Surabaya – Perjalanan ibadah umroh memang tatkalah adalah adanya ibadah yang sah baik itu ibadah haji ataupun ibadah umroh. Maka sebaiknya buat setiap jamaah di harapkan menaati peraturan yang ada.

Dan Perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT ini harus dilaksanakan secara ikhlas. Dengan keikhlasan, kelak kita mendapatkan pelajaran spiritual yang sarat makna. Keikhlasan juga akan mengasah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik setelah menyelesaikan umrah. Inilah yang disebut umrah mabrur.

Intinya, sepulang dari ibadah umrah, seseorang yang mabrur akan mendapat pencerahan dan mengamalkan perilaku yang lebih mencintai akhirat daripada dunia. Lebih jelasnya, berikut ini uraian tentang arti umroh mabrur:

Arti Umroh Mabrur

Lisan yang Santun

Sepulang dari berhaji atau umrah, tutur katanya selalu baik dan menyenangkan orang lain. Memiliki sifat terpuji seperti sabar, rendah hati (tawaddhu), dan tidak sombong. Di tanah suci ia telah ditempa menjadi hamba Allah yang rendah hati. Meski ia seorang pejabat, orang kaya atau penguasa, di tanah suci Allah memandangnya sama dengan rakyat jelata.

Berdasarkan pengalaman banyak pihak yang telah menjalankan ibadah haji dan umrah, jika kita tidak menjaga perkataan dan sikap selama berada di tanah suci, balasannya akan berlangsung cepat sekali. Misalnya kita meremehkan suatu hal atau mengomentari sesuatu secara tidak pantas, dengan cepat kita juga akan merasakan hal yang sama dengan itu. Karena itulah berada di tanah suci mampu menjaga seseorang dari sikap dan perkataan yang buruk.

Lebih Taat Beribadah

Seseorang yang sudah menyandang gelar haji atau pernah umrah akan lebih taat beribadah dibandingkan sebelum ia menunaikan ibadah haji atau umrah. Karena selama berada di tanah suci ia telah dilatih untuk taat beribadah, terutama dalam ibadah salat.

Seseorang yang sudah pernah umrah, seharusnya akan lebih taat beribadah dibandingkan sebelum ia menunaikan ibadah umrah.

Tanda Umroh Mabrur

Jika di Mekkah ia selalu menunaikan shalat berjamaah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, saat kembali ke tanah air, hal serupa harus dilakukannya. Keutamaan dari semua ibadah yang dia lakukan itu akan diterapkan dan ditindaklanjuti dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari.

Bersih Hati

Seseorang yang telah berpredikat haji atau pernah umrah akan selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Orang yang mendapat haji mabrur tidak mau lagi berbohong. Ia akan selalu jujur dalam kesehariannya, apapun profesinya. Jika kebetulan seorang pedagang ia tidak akan mau mempermainkan timbangan, meteran atau perkataan bohong lainnya. Kalau ia seorang aparatur negara ia tidak akan menyalahgunakan wewenang atau melakukan korupsi.

Meningkatnya Jiwa Sosial

Orang yang mendapat gelar haji atau umrah mabrur sifat sosialnya akan meningkat, begitu pula rasa kesetiakawanan terhadap sesama. Ia akan jadi rajin ber-infaq fi sabilillah, menyantuni anak yatim dan orang miskin. Kepada sekitarnya pun dia akan lebih peka untuk menawarkan bantuan baik berupa materi, tenaga maupun pemikiran yang digunakan untuk kebaikan. Tentunya  dengan sikapnya yang semakin baik ini, ada kecenderungan dia akan memiliki semakin banyak kenalan dan teman yang bisa dipercaya dan diandalkan dalam kebaikan.

Demikianlah uraian tentang arti umroh mabrur. Semoga menambah pengetahuan dan menginspirasi Anda sekalian untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas di mata Allah SWT. Karena sesungguhnya hanya Allah SWT yang paling pantas menilai mabrurnya ibadah kita. Wassalam.

Ketika kita melaksanakan thawaf dan berdesak-desakan dengan beribu-ribu jamaah lain dari segala penjuru dunia, timbul sebuah kesadaran betapa amat sangat kecilnya kita di hadapan Allah SWT Sang Kreator alam semesta ini. Kita akan mendapati berbagai suku dan ras yang ada di dunia ini mengagungkan nama-Nya. Ada yang mempunyai perawakan tinggi besar dengan kulit amat hitam seperti bangsa negro, ada yang bermata biru dan berkulit putih seperti halnya bangsa-bangsa dari asia tengah, ada yang berperwakan sedang dengan kulit sawo matang sebagaimana jamaah yang berasal dari melayu dan masih banyak lagi ras-ras lain dengan berbagai ciri dan bentuk tubuh yang berbeda satu dengan lainnya. Semuanya mengumandangkan asma Allah sambil mengelilingi bangunan yang berbalut kain hitam dan berdiri dengan kokohnya itu.  Subhanallah.

 

Selanjutnya ketika kita melakukan sa’i yang juga menjadi rukun dalam ibadah haji dan umroh, kitapun akan mendapati bahwa semuanya melantunkan do’a-doa dan mengagungkan nama-nama Allah. Hati terasa sangat damai dan merasa terharu melihat hal ini. Dan begitupun selanjutnya dengan ritual-ritual lain, semuanya akan membuat kita merasa amat sangat kecil di hadapan Allah SWT. Betapa selama ini kita sudah merasa paling benar sendiri ketika kita berada di lingkungan kita, merasa paling gagah sendiri, merasa paling sempurna dan rasa-rasa kesombongan yang lainnya, yang ternyata ketika kita di tanah haram, semuanya tidak ada artinya, sungguh kita selama ini berada dalam perasaan yang semu. Astaghfirullah.

 

Demikian itulah sebenarnya hakikat ibadah haji atau umroh yang kita lakukan. Kita akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri keagungan Allah dan kebenaran akan ajaran Nabi Muhammad SAW. Sehingga sudah semestinyalah ketika kita pulang dari tanah suci kita menjadi akan menjadi manusia yang lebih berkualitas dibanding sebelum kita melakukan ibadah haji atau umroh. Dan inilah yang selanjutnya dinamakan dengan haji atau umroh yang mabrur. Mungkin beberapa ciri dari haji atau umroh yang mabrur akan dapat kita lihat sebagaimana dikatakan dai wong kito dan Pemred Warta Dakwah, H Muazim Syair, merujuk beberapa hadist Rasulullah SAW, ada empat ciri orang yang mendapat predikat haji mabrur :

  1. Sepulang dari berhaji atau umroh, tutur katanya selalu baik dan menyenangkan orang lain. Memiliki sifat terpuji seperti sabar, rendah hati (tawaddhu’) dan tidak sombong. Di tanah suci ia telah ditempa menjadi hamba Allah yang rendah hati. Meski ia seorang pejabat, orang kaya atau penguasa, di tanah suci Dia memandangnya sama dengan rakyat kecil, jelata. Semuanya hanyalah hamba-Nya semata
  2. Seseorang yang sudah menyandang gelar haji atau pernah umroh akan lebih taat beribadah dibandingkan sebelum ia menunaikan ibadah haji atau umroh. Karena selama berada di tanah suci ia telah dilatih untuk taat beribadah, terutama dalam ibadah salat. Kalau di Mekkah ia selalu menunaikan salat berjamaah di Masjidil Haram, dan atau di Masjid Nabawi ketika berada di Madinah Al-Munawwarah, setibanya di tanah air hal itu juga harus dilakukannya. Dia tindaklanjuti dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari.
  3. Seseorang yang telah berpredikat haji atau pernah umroh akan selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Orang yang mendapat haji mabrur tidak mau lagi berbohong. Ia akan selalu jujur dalam kesehariannya, apapun profesinya. Jika kebetulan seorang pedagang ia tidak akan mau mempermainkan timbangan, meteran atau perkataan bohong lainnya. Kalau ia seorang aparatur negara ia tidak akan menyalahgunakan wewenang atau melakukan korupsi.
  4. Orang yang mendapat gelar haji atau umroh mabrur sifat sosialnya akan meningkat, begitu pula rasa kesetiakawanan terhadap sesama. Ia akan jadi rajin ber-infaq fi sabilillah, menyantuni anak yatim dan orang miskin.

Mungkin empat hal di atas itulah yang bisa menjadi tolok ukur kemabruran seseorang setelah melakukan ibadah haji atau umroh. Karena haji bukanlah hanya urusan gelar atau nama saja, tetapi lebih jauh dari itu haji atau umroh merupakan perjalanan spiritual yang akan membuat seseorang yang melaksanakannya lebih berkualitas dibanding ketika sebelum melaksnakan ibadah haji atau umroh. Wallahua’lam

 

Demikianlah Kisah Pemuda Ashabul Kahfi Yang Tidur Selama 309 Tahun Lamanya oiya, mengingatkan Masih ada PROMO Paket UMROH MURAH 2018 untuk keberangkatan Umroh Bisnis Murah 2017
Dan apabila Bapak atau Ibu berkenan untuk bersilaturahmi bisa mengunjungi
Head Office :
Wisma Pagesangan Raya No. 89 Surabaya

(Selatan Masjid Agung Surabaya)